BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan perekonomian saat ini sangat pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi di segala bidang terutama bidang perdagangan yang mulai menawarkan produk investasi seperti franchise(Waralaba), lisensi, dan lain-lain. Diantara sekian banyak produk investasi yang ditawarkan, franchise merupakan salah satu alternatif investasi yang dipilih karena proses pengoperasiannya yang mudah, dan sistem manajerial yang sudah jelas serta sesuai dengan standar operasi yang telah dilaksanakan di perusahaan secara umum.
Gerai-gerai peritel, mulai dari peritel modal besar, misalnya Carrefour, Giant, Hypermart; peritel menengah yang bermunculan dimana-mana, sampai-sampai berada di kompleks perumahan, di pinggir jalan misalnya :AlfaMidi, Alfamart, Indomart, Yomart, Ceriamart, Yogya, Griya; semuanya beroperasi dalam satu naungan manajemen waralaba. Sampai ke waralaba klas UKM, misalnya ayam bakar Mas Mono, ayam bakar Sabana,pempek Palembang 23 Ulu. Waralaba yang bergerak di bidang makanan cepat saji, misalnya: KFC, California Fried Chicken, Texas Fried Chicken, Wendys, Sizzler, PizzaHut, Dunkin Donat dan masih banyak lagi yang tidak disebutkan disini. Apalagi kalau kita memperhatikan tumbuh dan menyebar waralaba berciri khas warna hijau merah-jingga-putih, Seven-Eleven; anak-anak muda selalu menyebut Sevel, sepertinya waralaba ini muncul dikhususkan untuk para kawula muda.
Perkembangan perekonomian saat ini sangat pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi di segala bidang terutama bidang perdagangan yang mulai menawarkan produk investasi seperti franchise(Waralaba), lisensi, dan lain-lain. Diantara sekian banyak produk investasi yang ditawarkan, franchise merupakan salah satu alternatif investasi yang dipilih karena proses pengoperasiannya yang mudah, dan sistem manajerial yang sudah jelas serta sesuai dengan standar operasi yang telah dilaksanakan di perusahaan secara umum.
Gerai-gerai peritel, mulai dari peritel modal besar, misalnya Carrefour, Giant, Hypermart; peritel menengah yang bermunculan dimana-mana, sampai-sampai berada di kompleks perumahan, di pinggir jalan misalnya :AlfaMidi, Alfamart, Indomart, Yomart, Ceriamart, Yogya, Griya; semuanya beroperasi dalam satu naungan manajemen waralaba. Sampai ke waralaba klas UKM, misalnya ayam bakar Mas Mono, ayam bakar Sabana,pempek Palembang 23 Ulu. Waralaba yang bergerak di bidang makanan cepat saji, misalnya: KFC, California Fried Chicken, Texas Fried Chicken, Wendys, Sizzler, PizzaHut, Dunkin Donat dan masih banyak lagi yang tidak disebutkan disini. Apalagi kalau kita memperhatikan tumbuh dan menyebar waralaba berciri khas warna hijau merah-jingga-putih, Seven-Eleven; anak-anak muda selalu menyebut Sevel, sepertinya waralaba ini muncul dikhususkan untuk para kawula muda.
1.2 Perumusan Masalah
Bagaimana penerapan strategi manajemen perusahaan waralaba (franchise) 7-Eleven di tinjau dari segala aspek.
1.3. Tujuan Pembahasan
1. Agar mengetahui faktor yang mendorong terbentuknya 7-Eleven di Indonesia
2. Agar mengetahui strategi pemasaran 7-Eleven di Indonesia
1. Agar mengetahui faktor yang mendorong terbentuknya 7-Eleven di Indonesia
2. Agar mengetahui strategi pemasaran 7-Eleven di Indonesia
BAB II
POKOK PEMBAHASAN
POKOK PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang terbentuknya 7-Eleven di Indonesia
7-Eleven Didirikan pada tahun 1927 di Oak Cliff, Texas (kini masuk wilayah Dallas), nama 7-Eleven mulai digunakan pada tahun 1946. Sebelum toko 24 jam pertama dibuka di Austin, Texas pada tahun 1962, 7-Eleven buka dari jam 7 pagi hingga 11 malam, dan karenanya bernama 7-Eleven (7-Sebelas). 7-Eleven merupakan salah satu jaringan ritel convenience store kelas dunia yang tersebar di 18 negara di dunia dengan jumlah outlet lebih dari 36.000 outlet. Di kawasan Asia dan Australia ritel ini sudah ada di 11 negara. 7-Eleven adalah jaringan toko kelontong (convenience store) 24 jam asal Amerika Serikat yang sejak tahun 2005 kepemilikannya dipegang Seven & I Holdings Co., sebuah perusahaan Jepang. Pada tahun 2004, lebih dari 26.000 gerai 7-Eleven tersebar di 18 negara dan pasar terbesarnya adalah Amerika Serikat dan Jepang. Tahun 1991, Southland Corporation yang merupakan pemilik 7-Eleven, sebagian besar sahamnya dijual kepada perusahaan jaringan supermarket Jepang, Ito-Yokado. Southland Corporation lalu diubah namanya menjadi 7-Eleven, Inc pada tahun 1999. Tahun 2005, seluruh saham 7-Eleven, Inc diambil alih Seven & I Holdings Co. sehingga perusahaan ini dimiliki sepenuhnya oleh pihak Jepang.
7-Eleven masuk ke Indonesia melalui jalur franchise yang dikelola oleh PT. Modern Internasional Tbk (juga distributor tunggal produk Fuji Film Jepang di Indonesia) melalui anak perusahaannya, PT Modern Putra Indonesia. Seperti diberitakan di situs resminya pembukaan gerai pertama kali yaitu pada tanggal 07 November 2009 di daerah Bulungan, Jakarta Selatan. Pembukaan dilakukan oleh empat orang secara bersamaan, Bapak Sungkono Honoris, Bapak Luntungan Honoris, dan Bapak Siwi Honoris mewakili PT Modern Putra Indonesia, dan Bapak Bob Jenkins, mewakili Principal 7-Eleven.
Indonesia adalah termasuk negara ke-12 di kawasan Asia dan Australia dengan keberadaan 7 eleven didalamnya. Bisa dipastikan dunia bisnis ritel di Indonesia akan semakin bergairah dengan semua tantangan dan peluangnya. Hingga saat ini sudah banyak muncul para pemain dalam bisnis ritel ini dari mulai kelas mini market, supermarket hingga hypermarket. Tidak hanya ritel lokal saja, ritel asing yang masuk melalui system kewaralabaan juga sudah mulai bermunculan.
7-Eleven Didirikan pada tahun 1927 di Oak Cliff, Texas (kini masuk wilayah Dallas), nama 7-Eleven mulai digunakan pada tahun 1946. Sebelum toko 24 jam pertama dibuka di Austin, Texas pada tahun 1962, 7-Eleven buka dari jam 7 pagi hingga 11 malam, dan karenanya bernama 7-Eleven (7-Sebelas). 7-Eleven merupakan salah satu jaringan ritel convenience store kelas dunia yang tersebar di 18 negara di dunia dengan jumlah outlet lebih dari 36.000 outlet. Di kawasan Asia dan Australia ritel ini sudah ada di 11 negara. 7-Eleven adalah jaringan toko kelontong (convenience store) 24 jam asal Amerika Serikat yang sejak tahun 2005 kepemilikannya dipegang Seven & I Holdings Co., sebuah perusahaan Jepang. Pada tahun 2004, lebih dari 26.000 gerai 7-Eleven tersebar di 18 negara dan pasar terbesarnya adalah Amerika Serikat dan Jepang. Tahun 1991, Southland Corporation yang merupakan pemilik 7-Eleven, sebagian besar sahamnya dijual kepada perusahaan jaringan supermarket Jepang, Ito-Yokado. Southland Corporation lalu diubah namanya menjadi 7-Eleven, Inc pada tahun 1999. Tahun 2005, seluruh saham 7-Eleven, Inc diambil alih Seven & I Holdings Co. sehingga perusahaan ini dimiliki sepenuhnya oleh pihak Jepang.
7-Eleven masuk ke Indonesia melalui jalur franchise yang dikelola oleh PT. Modern Internasional Tbk (juga distributor tunggal produk Fuji Film Jepang di Indonesia) melalui anak perusahaannya, PT Modern Putra Indonesia. Seperti diberitakan di situs resminya pembukaan gerai pertama kali yaitu pada tanggal 07 November 2009 di daerah Bulungan, Jakarta Selatan. Pembukaan dilakukan oleh empat orang secara bersamaan, Bapak Sungkono Honoris, Bapak Luntungan Honoris, dan Bapak Siwi Honoris mewakili PT Modern Putra Indonesia, dan Bapak Bob Jenkins, mewakili Principal 7-Eleven.
Indonesia adalah termasuk negara ke-12 di kawasan Asia dan Australia dengan keberadaan 7 eleven didalamnya. Bisa dipastikan dunia bisnis ritel di Indonesia akan semakin bergairah dengan semua tantangan dan peluangnya. Hingga saat ini sudah banyak muncul para pemain dalam bisnis ritel ini dari mulai kelas mini market, supermarket hingga hypermarket. Tidak hanya ritel lokal saja, ritel asing yang masuk melalui system kewaralabaan juga sudah mulai bermunculan.
Setiap gerai 7-Eleven menjual berbagai jenis produk, umumnya makanan, minuman, dan majalah. Di berbagai negara, tersedia pula layanan seperti pembayaran tagihan serta penjualan makanan khas daerah. Produk khas 7-Eleven adalah Slurpee, sejenis minumas es dan Big Gulp, minuman soft drink berukuran besar.
2.2 Faktor-faktor yang mendorong terbentuknya 7-Eleven di Indonesia
a. Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil. Dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia (secara makro) sebesar 6.5% per tahun, tentunya hal ini sedikit banyak menjanjikan potensi pertumbuhan ekonomi di kalangan mikro, yang sangat diharapkan oleh setiap pemain di industri retail.
a. Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil. Dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia (secara makro) sebesar 6.5% per tahun, tentunya hal ini sedikit banyak menjanjikan potensi pertumbuhan ekonomi di kalangan mikro, yang sangat diharapkan oleh setiap pemain di industri retail.
b. Indonesia memiliki persentase middle income level yang tinggi dan mendominasi, hingga 55% dari populasi masyarakat Indonesia. Sesuai dengan indikator dari Bank Dunia, kategori middle income memiliki rata-rata consumption level sebesar US$ 2.00 per hari. Sehingga dengan kemampuan konsumsi yang cukup bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, dengan sendirinya hal tersebut menjadikan Indonesia sebuah pasar yang sangat potensial. Ketiga, Indonesia memiliki struktur demografi yang bagus dalam masa kedepannya, dan diperkirakan akan mencapai puncak demographic dividend dalam 20 tahun kedepan. Sebesar 33% sampai 42% penduduk Indonesia berada di usia 16 hingga 35 tahun per tahun 2009. Bila digabungkan dengan kemampuan konsumsi harian yang memadai, tingginya jumlah konsumen potensial sangat menjanjikan bagi 7-Eleven untuk merambah pasar potensial di Indonesia ini. Keempat, masyarakat Indonesia, khususnya di Jakarta, sangat membutuhkan tempat hang-out yang murah meriah untuk bercengkrama dan bersosialita tanpa terhalang oleh batasan sosial yang kerap menonjol dari berbagai tempat hang-out yang ada di Jakarta selama ini. Hal ini didukung oleh kebiasaan masyarakat menengah di Indonesia (khususnya Jakarta) yang dengan dana terbatas, namun suka mencoba berbagai hal.
2.3 Strategi Pemasaran 7-Eleven di Indonesia
1. Segmentasi
Berdasarkan data diatas, data terbaru penduduk Indonesia menunjukkan lebih besar pada usia antara 17-34 tahun. Kejelian 7 Eleven dalam melihat peluang ini adalah dengan membidik segmen pasar dari segi demografis adalah membidik kalangan masyarakat berusia muda. Seperti kita ketahui nongkrong di kafe atau restoran siap saji usai bubaran sekolah, kuliah atau pulang kerja, belakangan ini merupakan tren gaya hidup remaja dan eksekutif.
1. Segmentasi
Berdasarkan data diatas, data terbaru penduduk Indonesia menunjukkan lebih besar pada usia antara 17-34 tahun. Kejelian 7 Eleven dalam melihat peluang ini adalah dengan membidik segmen pasar dari segi demografis adalah membidik kalangan masyarakat berusia muda. Seperti kita ketahui nongkrong di kafe atau restoran siap saji usai bubaran sekolah, kuliah atau pulang kerja, belakangan ini merupakan tren gaya hidup remaja dan eksekutif.
2. Targeting
Target konsumen yang di bidik oleh 7Eleven disini sangatlah sesuai dengan segmen pasar yang di pilih yaitu adalah anak muda, pelajar, karyawan, dan keluarga.di mana Sebagian besar di antara mereka datang tidak sendirian, tapi bersama teman atau rombongan.
Target konsumen yang di bidik oleh 7Eleven disini sangatlah sesuai dengan segmen pasar yang di pilih yaitu adalah anak muda, pelajar, karyawan, dan keluarga.di mana Sebagian besar di antara mereka datang tidak sendirian, tapi bersama teman atau rombongan.
3. Positioning
Positioning mereka adalah penyedia tempat nongkrong ,sosialisasi dan community store yang mengutamakan kenyamanan. Tampaknya positioning ini cukup efektif di komunikasikan sebagai keunggulan 7 Eleven yang berbeda di banding tempat nongkrong yang lain seperti J-co dan Starbuck. konsep ruang yang terang dan bersih, display barang yang menarik, konsep self sevice, inovasi menarik, pelayan ramah dan helpful, serta kemerdekaan untuk nongkrong kapan saja dan selama apapun tanpa diusir satpam atau ditunggu antrian menjadi alasan utama konsumen datang ke 7 Eleven.
Positioning mereka adalah penyedia tempat nongkrong ,sosialisasi dan community store yang mengutamakan kenyamanan. Tampaknya positioning ini cukup efektif di komunikasikan sebagai keunggulan 7 Eleven yang berbeda di banding tempat nongkrong yang lain seperti J-co dan Starbuck. konsep ruang yang terang dan bersih, display barang yang menarik, konsep self sevice, inovasi menarik, pelayan ramah dan helpful, serta kemerdekaan untuk nongkrong kapan saja dan selama apapun tanpa diusir satpam atau ditunggu antrian menjadi alasan utama konsumen datang ke 7 Eleven.
Analisis Marketing MIX
1. Produk(Material)
Selain menjual aneka produk konsumer good, 7-Eleven juga menjual produk-produk andalannya. Penyediaan produk adalah mix, gabungan dari menu Indonesia dan luar bahkan juga dengan menu local daerah di Indonesia tergantung lokasi gerai. Produk yang ditawarkan adalah produk-produk yang diminati masyarakat Jakarta, seperti Slurpee, Gulp, Big Gulp, Big Bite, Hot Dog, Rice Bowl, Katsu, Spaghetti, Fetuccini, dan bakery yang merupakan makanan siap saji segar. Menu-menu di atas adalah menu makanan cepat saji yang diminati pelanggan dan Hal inilah yang membuat outlet tersebut menjadi berbeda dengan para pesaingnya. Perbedaan yang yang dapat di deferensiasikan dengan kuat adalah dimana konsumen yang berkunjung dapat dengan bebas meracik sendiri komposisi makanan yang akan di belinya.
Selain menjual aneka produk konsumer good, 7-Eleven juga menjual produk-produk andalannya. Penyediaan produk adalah mix, gabungan dari menu Indonesia dan luar bahkan juga dengan menu local daerah di Indonesia tergantung lokasi gerai. Produk yang ditawarkan adalah produk-produk yang diminati masyarakat Jakarta, seperti Slurpee, Gulp, Big Gulp, Big Bite, Hot Dog, Rice Bowl, Katsu, Spaghetti, Fetuccini, dan bakery yang merupakan makanan siap saji segar. Menu-menu di atas adalah menu makanan cepat saji yang diminati pelanggan dan Hal inilah yang membuat outlet tersebut menjadi berbeda dengan para pesaingnya. Perbedaan yang yang dapat di deferensiasikan dengan kuat adalah dimana konsumen yang berkunjung dapat dengan bebas meracik sendiri komposisi makanan yang akan di belinya.
2. Harga
Harga produk di 7-Eleven dijual dengan harga terjangkau, fresh, segar, dan tersedia setiap saat. Hal ini dinilai telah sesuai dengan pasar sasarannya yang didominasi kaum muda yang belum mempunyai penghasilan tinggi, waralaba ini mematok harga yang cukup terjangkau.
Harga produk di 7-Eleven dijual dengan harga terjangkau, fresh, segar, dan tersedia setiap saat. Hal ini dinilai telah sesuai dengan pasar sasarannya yang didominasi kaum muda yang belum mempunyai penghasilan tinggi, waralaba ini mematok harga yang cukup terjangkau.
3. Distribusi
Pemilihan tempat bagi gerai 7 Eleven adalah membuka gerai di daerah pemukiman yang strategis Dengan outlet yang standar opearasi yang relatif sama di beberapa tempat. Bila melihat keadaan di jalanan kota-kota besar yang sering kali macet ada baiknya jika 7-Eleven membuat gerai di pinggir jalan yang mudah terlihat agar pengendara yang sehabis pulang kerja dapat singgah sambil menunggu kemacetan pada jam-jam sibuk terurai. Dalam enam bulan pertama 2012, pengelola 7-Eleven, PT Modern Putraindonesia mampu meraih omzet sebanyak Rp204,95 miliar, atau setara 50 persen dari total pendapatan induk usaha MPI, PT Modern International Tbk (MDRN).
Berdasarkan laporan keuangan MDRN semester I-2012, pendapatan terhadap barang dagangan dan jasa 7-Eleven naik 54,19 persen dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp132,91 miliar. Direktur Keuangan Modern Internasional, Donny Sutanto menjelaskan, 7-Eleven siap menambah gerai baru usai perseroan menerbitkan saham baru (rights issue) sebesar Rp527,84 miliar. Donny menegaskan, pembangunan satu outlet 7-Eleven menghabiskan dana US$300 ribu (Rp2,82 miliar). Jika mengacu angka Rp409 miliar, maka akan berdiri 145 gerai 7-Eleven baru.
Pemilihan tempat bagi gerai 7 Eleven adalah membuka gerai di daerah pemukiman yang strategis Dengan outlet yang standar opearasi yang relatif sama di beberapa tempat. Bila melihat keadaan di jalanan kota-kota besar yang sering kali macet ada baiknya jika 7-Eleven membuat gerai di pinggir jalan yang mudah terlihat agar pengendara yang sehabis pulang kerja dapat singgah sambil menunggu kemacetan pada jam-jam sibuk terurai. Dalam enam bulan pertama 2012, pengelola 7-Eleven, PT Modern Putraindonesia mampu meraih omzet sebanyak Rp204,95 miliar, atau setara 50 persen dari total pendapatan induk usaha MPI, PT Modern International Tbk (MDRN).
Berdasarkan laporan keuangan MDRN semester I-2012, pendapatan terhadap barang dagangan dan jasa 7-Eleven naik 54,19 persen dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp132,91 miliar. Direktur Keuangan Modern Internasional, Donny Sutanto menjelaskan, 7-Eleven siap menambah gerai baru usai perseroan menerbitkan saham baru (rights issue) sebesar Rp527,84 miliar. Donny menegaskan, pembangunan satu outlet 7-Eleven menghabiskan dana US$300 ribu (Rp2,82 miliar). Jika mengacu angka Rp409 miliar, maka akan berdiri 145 gerai 7-Eleven baru.
2.4 Sejarah mesin Slurpee 7-Eleven (Alat)
Mesin untuk membuat frozen beverages minuman beku ditemukan oleh Omar Knedlik di akhir 1950-an. Ide untuk minum es slushed datang ketika Mesin Soda Fountain Knedlik yang sedang rusak, memaksanya untuk menempatkan soda di freezer untuk tetap dingin, tetapi ternyata menyebabkan minuman soda tersebut menjadi Slushy yakni Semi Beku seperti Slush Ice (mirip Granita Ice atau Snow Ice, atau Es Salju). Dan ternyata banyak orang mencintai minuman berbentuk Slush ini, yang memberinya ide untuk membuat sebuah mesin untuk membantu membuat “Slush”, seperti Es Salju ini.
Gambar Mesin Soda Fontain
Ketika menjadi sangat populer, Knedlik menyewa artis Ruth E. Taylor, untuk membuat nama pemasaran dan logo untuk penemuannya. Dia datang dengan ICEE dan dirancang logo yang asli, yang masih digunakan sampai sekarang. Prototipe awal untuk mesin memanfaatkan unit penyejuk udara mobil. Pada tahun 1965, 7-Eleven mulai kesepakatan lisensi dengan Perusahaan ICEE untuk menjual produk di bawah kondisi tertentu. Dua kondisi penting yang, pertama, mereka harus datang dengan nama yang berbeda untuk produk, dan kedua, hanya diperbolehkan untuk menjual produk di 7-Eleven lokasi di AS terakhir menjadi sebuah klausul non-bersaing memastikan dua minuman pernah pergi kepala ke kepala untuk hak distribusi. 7-Eleven kemudian dijual produk yang pada tahun 1967 menjadi dikenal sebagai “Slurpee” (untuk suara yang dibuat ketika minum mereka). Istilah ini diciptakan oleh Bob Stanford, direktur lembaga 7-Eleven.
Mesin Slurpee memiliki kran output yang terpisah untuk setiap rasa yang letaknya di depan masing-masing tabung tangki berpendinginnya, di mana pelanggan tuangkan Slurpees mereka sendiri, apa pun rasa. Ketika Slurpees pertama kali diperkenalkan, mesin dispenser terletak di belakang meja, dan petugas yang bertugas akan ditugaskan dengan mengeluarkan produk. Rasa umum yang dibekukan adalah Coke, Mountain Dew, dan Cherry, tapi rasa baru diperkenalkan secara teratur. Dalam sejarah awal Slurpee tersebut, rasa diputar lebih sering daripada yang mereka lakukan saat ini.
Mesin Slurpee memiliki kran output yang terpisah untuk setiap rasa yang letaknya di depan masing-masing tabung tangki berpendinginnya, di mana pelanggan tuangkan Slurpees mereka sendiri, apa pun rasa. Ketika Slurpees pertama kali diperkenalkan, mesin dispenser terletak di belakang meja, dan petugas yang bertugas akan ditugaskan dengan mengeluarkan produk. Rasa umum yang dibekukan adalah Coke, Mountain Dew, dan Cherry, tapi rasa baru diperkenalkan secara teratur. Dalam sejarah awal Slurpee tersebut, rasa diputar lebih sering daripada yang mereka lakukan saat ini.
2.4 Laporan Keuangan 7-Eleven
2.5 SDM
7 Eleven merupakan salah satu jaringan ritel convenience store kelas dunia yang tersebar di 18 negara di dunia dengan jumlah outlet lebih dari 36.000 outlet. Di kawasan Asia dan Australia ritel ini sudah ada di 11 negara. Jumlah karyawannya 45.000 (2010).
BAB III
P E N U T U P
P E N U T U P
3.1 Kesimpulan
1. 7-Eleven merupakan jaringan retail convenience store internasional dengan sistem franchise terbesar didunia.
2. Fokus utama membuka gerai 7-Eleven adalah dengan target awal area komersial dan kantor padat penduduk.
3. 7-Eleven tetap memilih untuk ekspansi masuk ke new market (Indonesia) dan berkompetisi dengan berbagai penyedia jasa convenience store karena Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil, memiliki persentase middle income level yang tinggi dan mendominasi.
1. 7-Eleven merupakan jaringan retail convenience store internasional dengan sistem franchise terbesar didunia.
2. Fokus utama membuka gerai 7-Eleven adalah dengan target awal area komersial dan kantor padat penduduk.
3. 7-Eleven tetap memilih untuk ekspansi masuk ke new market (Indonesia) dan berkompetisi dengan berbagai penyedia jasa convenience store karena Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil, memiliki persentase middle income level yang tinggi dan mendominasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar