PANDAMA
ADISTRA UTAMA
16113807
/ 3KA16
DIKSI
Pengertian Diksi dan Contohnya Lengkap - Tidak
semua orang dapat mengungkapkan perasaan atau gagasan dengan bahasa yang tepat
atau baik. Hal ini sangat dipengaruhi oleh penguasaan pembendaharaan kata
seseorang. Semakin banyak kosa kata yang dimiliki seseorang maka pemilihan kata
dalam bahasa akan semakin baik guna menyesuaikan bahasa yang akan digunakan
dalam kehidupan.
Ada begitu banyak kata dalam bahasa indonesia,
beberapa kata memiliki makna yang sama seperti aku, sama, gue, dan lain
sebagainya. Kata-kata tersebut memiliki makna yang sama namun kesan yang
dimiliki sangat berbeda-beda. Tentu pemilihan kata ini dilakukan dengan
memperhatikan kondisi dimana ia berbicara atau sedang berbicara kepada siapa.
Pemilihian kata ini dikenal dengan istilah diksi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi
adalah pemilihan kat yang tepat dan selaras dalam penggunaanya sehingga dapat
memberikan kesan / makna / efek sesuai dengan harapan. Adapun fungsi diksi
ialah:
• Mudah dipahami. Pemilihan diksi yang tepat dan
selaras akan memudahkan pembaca atau pendengar lebih mudah dalam memahami arti
kata atau makna kalimat atau gagasan yang hendak ingin disampaikan.
Pemilihan diksi dilakukan dengan memperhatikan situasi yang sedang
berlangsung.
Misal dalam menulis buku cerita yang memiliki
tujuan anak-anak remaja sebagai sasaran pembaca, maka gunakanlah kata-kata
sederhana yang mudah dipahami dengan demikian pesan moral yang ingin
disampaikan akan sampai pada hati pembaca. begitupula misalnya saat rapat yang
mana suasana adalah formal maka gunakan kata-kata yang baku, sesuai aturan EYD.
Dengan demikian, hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihilangkan.
• Mendapatkan tujuan. Dengan menggunakan diksi
yang tepat, maka peluang untuk mendapatkan tujuan lebih besar. Hal ini karena
komunikasi yang berlangsung sangat efektif selain itu pemilihan kata yang
sesuai dengan suasana resmi ataupun tidak resmi akan menciptakan ekspresi
tertentu yang dapat menyenangkan pendengar atau pembaca.
Kata yang digunakan menunjukkan makna yang ingin
diutarakan. Namun demikian, seringkali kata yang digunakan memiliki arti yang
berbeda dengan makna itu sendiri. oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk
menggunakan diksi yang akan digunakan, maka harus pembicara atau penulis harus
memahami makna dan relasi kata. Menurut Chaer, makna kata dapat dibedakan
menjadi:
a. Makna denotasi dan Makna konotasi
Merupakan denotasi merupakan makna yang
sesungguhnya yang sesuai dengan pengertian kamus besar bahasa Indonesia.
Contoh: kata “miskin”, dalam pengertian denotasi artinya ialah keadaan
seseorang yang kurang dalam hal finalsial. Sementara itu makna konotasi yaitu
makna lain atau makna yang bukan sebenarnya yang mungkin hanya dapat dimengerti
oleh beberapa orang saja yang bersangkutan.
Contoh: kata “alarm” dalam kalimat, “ kamu
selalu datang tepat waktu, alarm jam kamu bagus”. Kata alarm dalam
kalimat tersebut merupakan kata konotasi untuk menunjukkan makna kata
“disiplin”. Kata konotasi yang bertujuan untuk memuji disebut knotasi
positif sedangkan konotasi yang mengejek atau menyindir disebut konotasi
negatif.
b. Makna leksikal dan makna gramatikal
Yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi
atau yang memang nyata dalam kehidupan. Contoh: bakteri Salmonella sp.
Menyebabkan penyakit tipus. Sedangkan makna gramatikal yaitu makna kata yang
menyatakan makna jamak, menunjukkan suatu jumlah. Contoh: ada buku-buku baru di
perpustakaan. Artinya ialah banyak buku baru yang datang di perpustakaan.
c. Makna referensial dan nonreferensial
Yang dimaksud dengan makna referensial yaitu
kata yang mengacu atau menunjukkan kepada sesuatu. Contoh: buku biologi ada di
Rak no. 7. Kata “rak no.&” merupakan frase yang menunjukkan makna
referensial. Sedangkan makna nonreferensial adalah kebaikan dari kata
referensial. contoh: baru saja aku membaca buku itu, tetapi aku lupa
meletakkannya. Kata “tetapi” merupakan kata yang menunjukkan makna
nonreferensial.
d. Makna konseptual dan makna asosiatif
Makna konseptual merupakan makna suatu kata yang
menunjukkan deskripsi kata tersebut. Contoh: pangeran pergi menunggang unta.
Kata “unta” memilki makna konseptual yaitu binatang gurun berkaki empat yang
dapat dijadikan sebagai alat transportasi. Sedangkan makna asosiasi merupakan
makna kata yang menunjukkan hubungan yang terkait dengan kata tersebut. Contoh:
kata merah memiliki hubungan berani sedangkan kata merpati dihubungkan
(asosiasi) dengan kesetiaan.
e. Makna kata dan makna istilah
Makna kata akan terlihat jelas ketika kata
tersebut digunakan dalam sebuah kalimat. contoh: kata “dingin” dapat berarti
mengenai suhu atau cuaca, atau menunjukkan sikap seseorang. Sementara itu makna
istilah merupakan makna yang bersifat pasti atau mutlak. Hal ini karena makna
istilah hanya digunakan dalam bidang-bidang tertentu. Contoh: kata dingin di
atas jika digunakan dalam bidang ilmu pengetahan alam maka memiiki makna pasti
menunjukkan suatu suhu.
f. Makna kias dan lugas
Makna kias ialah kata atau frase yang biasa
digunakan untuk mengatakan makna secara tidak langsung. Biasa digunakan dalam majas
atau peribahasa. Contoh: jangan sampai terjerat lintah darat. Frase lintah
darat menunjukkan makna kias yang berarti adalah rentenir. Sedangkan makna
lugas adalah kebalikan dari makna kias. Artinya dalam makna lugas
terang-terangan menyebutkan makna yang sesungguhnya. Contoh: sepertinya hampir
semua pejabat negara adalah koruptor.
Dalam memilih diksi harus mempertimbangkan
kesesuaian dan ketepatan kata. Perhatikan syarat-syarat berikut untuk
menentukan kesesuaian diksi:
1. Hindari pengggunaan bahasa substandar dalam
situasi formal.
Bahasa standar ialah merupakan tutur bahasa yang
biasa digunakan oleh mereka kalangan menengah ke atas, atau yang
mengenyam pendidikan tinggi. Sementara itu, bahasa nonstrandar kebalikannya, biasa
digunakan dalam percakapan sehari-hari orang umum.
2. Menggunakan kata ilmiah dalam kondisi
tertentu saja, selebihnya gunakan kata popular. Kata ilmiah merupakan kata yang
biasa digunakan dalam tulisan ilmiah atau kata yang jarang digunakan oleh orang-orang
awam, hanya kalangan tertentu saja yang menggunakan. Contoh, dalam jurnal
ilmiah menggunakan kata ilmiah. Sedangkan ketika berbca maka gunakanlah kata
popular, halini karena agar makna yang disampaikan dalam jurnal dapat
dimengerti oleh semua pendengar.
3. Hindari jargon yang dapat dibaca oleh publik.
Jargon merupakan kalimat atau frase dalam bahasa tertentu yang hanya dimengerti
oleh beberapa orang. Oleh karenanya dalam memilih kata hindari jargon karena
orang lain belum tentu memahaminya.
4. Hindari pemakaian kata – kata slang. Kata
slang merupakan kata non standar yang digunakan dalam percakapan dengan teman
sebaya. Pengunaan kata slang saat formal tentu tidaklah baik.
5. Hindari ungkapan-ungkapan yang telah usang
6. Hindari bahasa atau kata artifisial yaitu
rangkaian kata yang disusun secara kreatif untuk menimbulkan rasa seni. Contoh:
harum bunga mawar terberai terbawa angn sampai ke penciumanku.
7. Hindari penggunaan kata – kata atau kalimat
percakapan dalam penulisan. Hal ini karena kata- kata dalam percakapan
merupakan kata nonformal, sehingga tidak baik ketika digunakan saat menulis
hal-hal yang bernuansa ilmiah.
Berikut merupakan macam hubungan makna yang
terbentuk antar kata:
1. Sinonim. Merupakan kata – kata yang memiliki kesamaan
makna. Contoh: Pintar dengan pandai, kurus dengan langsing. Meski memiliki
kesamaan makna, kata-kata dalam sinonim memiliki kesan masing-masing seperti
halu atau kasarnya.
2. Antonim. Sekelompok kata yang memiliki makan
yang berlawanan dengan kata lain. Contoh: tinggi dengan pendek, pesek dengan
mancung, dan ainnya.
3. Polisemi merupakan kata yang menunjukkan
satuan bahasa yang dapat memiliki banyak makna. Contoh: anak asuh, anak tangga,
anak durhaka, anak sholeh. Dan lain-lain.
4. Hiponim merupakan makna kata yang tercakup
dalam kata lain. Contoh: melati merupakan hiponim dari bunga.
5. Hipernim merupakan kata yang mencakup kata
lain. Kebalikan dari hiponim. Contoh: bunga merupakan hipernim dari melati,
mawar, kenanga dan lain-lain.
6. Homonim merupakan sekelompok kata yang
memiliki kesamaan ejaan dan bunyi tapi memiliki arti yang berbeda. Contoh:
(1)Hak asuh anak jatuh kepda ibunya; dengan (2) wanita itu memakai sepatu
berhak tinggi. Pada kalimat pertama hak berarti kepemilikian sedangkan pada
kalimatkedua artinya bagian sepatu. Atau (1) ular ini mengeluarkan bisa yang
sangat berbahaya; dengan (2) kamu pasti bisa menghadapinya. Bisa pada kalimat
pertama artinya racun sedangkan bisa pada kalimat kedua artinya kemampuan.
7. Homofon merupakan sekelompok kata yang
memilikikesamaan bunyi namun ejaan dan arti berbeda. Contoh: (1) bulan ini saya
mendapat bunga bank sebesar 3% ; dengan (2) bang, pesen somay satu piring.
8. Homograf yaitu kata yang memiliki tulisan
sama namun bunyi dan arti berbeda. Contoh: (1) Saya sudah sampai di Serang, bu;
(2) andi diserang kawanan begal.
KALIMAT
Pengertian Kalimat dan Jenisnya
Kalimat adalah satuan
bahasa yang secara relatif berdiri sendiri memiliki pola intonasi final dan
secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa yang digunakan sebagai
sarana untuk menuangkan dan menyusun gagasan secara terbuka agar
dapat dikomunikasikan kepada orang lain, atau bagian ujaran yang
mempunyai struktur minimal subjek dan predikat, mempunyai intonasi
dan bermakna
kalimat dibagi menjadi
dua, yaitu :
Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah
kalimat yang hanya mempunyai satu pola kalimat, yaitu hanya memiliki satu
subjek dan predikat.
Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah
kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk ini terdiri
dari induk kalimat dan anak kalimat. Cara membedakan anak kalimat dan induk
kalimat yaitu dengan melihat letak konjungsi. Induk kalimat tidak memuat
konjungsi didalamnya, konjungsi hanya terdapat pada anak kalimat.
Setiap kalimat majemuk
mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat
diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya. Jenis-jenis
kalimat majemuk adalah:
1. Kalimat Majemuk Setara
2. Kalimat Majemuk Rapatan
3. Kalimat Majemuk Bertingkat
4. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara
yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya
sejajar atau sederajat.
Berdasarkan kata
penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk setara terdiri dari lima macam,
yakni:
|
Jenis
|
Konjungsi
|
|
penggabungan
|
Dan
|
|
penguatan/Penegasan
|
Bahkan
|
|
pemilihan
|
Atau
|
|
berlawanan
|
di lanjutkan pada sebuah kalimat majemuk yang kedua
(sedangkan)
|
|
urutan waktu
|
kemudian, lalu, lantas
|
Contoh:
1. Juminten pergi ke pasar. (kalimat
tunggal 1)
2. Norif berangkat ke bengkel. (kalimat tunggal
2)
· Juminten
pergi ke pasar sedangkan Norif berangkat ke bengkel. (kalimat majemuk)
· Norif
berangkat ke bengkel sedangkan Juminten pergi ke pasar. (kalimat majemuk)
Kalimat Majemuk Rapatan
Kalimat majemuk
rapatan yaitu gabungan beberapa kalimat tunggal yang karena subjek, predikat
atau objeknya sama,maka bagian yang sama hanya disebutkan sekali.
Contoh:
1. Pekerjaannya hanya makan. (kalimat
tunggal 1)
2. Pekerjaannya hanya tidur. (kalimat tunggal
2)
3. Pekerjaannya hanya merokok. (kalimat tunggal
3)
· Pekerjaannya
hanya makan, tidur, dan merokok. (kalimat majemuk rapatan)
Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk
bertingkat yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang
kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk
kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang
terdapat pada induk kalimat.
Berdasarkan kata
penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk bertingkat terdiri dari sepuluh
macam, yakni:
|
Jenis
|
Konjungsi
|
|
syarat
|
jika, kalau, manakala, andaikata, asal(kan)
|
|
tujuan
|
agar, supaya, biar
|
|
perlawanan (konsesif)
|
walaupun, kendati(pun), biarpun
|
|
penyebaban
|
sebab, karena, oleh karena
|
|
pengakibatan
|
maka, sehingga
|
|
cara
|
dengan, tanpa
|
|
alat
|
dengan, tanpa
|
|
perbandingan
|
seperti, bagaikan, alih-alih
|
|
penjelasan
|
Bahwa
|
|
kenyataan
|
Padahal
|
Contoh:
1. Kemarin ayah mencuci motor. (induk
kalimat)
2. Ketika matahari berada di ufuk timur. (anak
kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)
· Ketika
matahari berada di ufuk timur, ayah mencuci motor. (kalimat majemuk bertingkat
cara 1)
· Ayah
mencuci motor ketika matahari berada di ufuk timur. (kalimat majemuk bertingkat
cara 2)
Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk
campuran yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk
bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari tiga kalimat.
Contoh:
1. Toni bermain dengan
Kevin. (kalimat tunggal 1)
2. Rina membaca buku di kamar
kemarin. (kalimat tunggal 2, induk kalimat)
3. Ketika aku datang ke
rumahnya. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)
· Toni
bermain dengan Kevin, dan Rina membaca buku di kamar, ketika aku datang ke
rumahnya. (kalimat majemuk campuran)
Kalimat memiliki beberapa
unsur atau unsur sintaksis (jabatan kata atau peran kata) yang terdiri dari :
Subjek (S)
Predikat (P)
Objek (O)
Pelengkap (Pel)
Keterangan (Ket)
Pengertian Subjek
Bagian kalimat yang
menunjukkan pelaku, sosok (benda), semua hal, atau masalah yang menjadi
pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya berisi kata/frasa, klausa,
frasa verbal. Subjek dapat pula dikenali dengan cara memakai
kata tanya siapa (yang), apa (yang) kepada PREDIKAT. Jika
jawaban tidak logis maka tidak ada Subyek.
Pengertian Predikat
Predikat
menyatakan keadaan yang dilakukan oleh S, sifat, situasi, status,
ciri atau jati diri S, atau jumlah sesuatu yang dimiliki S. Predikat
adalah bagian kalimat yang menghubungkan antar S dengan O dan K.
Predikat dapat berupa kata/frasa berkelas verba, adjektifa, numeralia
(kata bilangan), dan nomina (benda).
Pengertian Objek
Objek merupakan bagian
kalimat yang melengkapi Predikat. Objek pada umumnya diisi oleh nomina,
frasa nominal, atau klausa. Letak Objek selalu di belakang Predikat
yang berupa verba transitif, yaitu verba yang memerlukan Objek. Jika
Predikat diisi oleh verba INTRANSITIF maka Objek tidak diperlukan sehingga
kehadiran Objek dalam kalimat dikatakan TIDAK WAJIB HADIR.
Namun Objek dapat menjadi Subjek bila dipasifkan.
Pengertian Pelengkap
Pelengkap atau komplemen
adalah bagian kalimat yang melengkapi Predikat. Letak Pelengkap
umumnya di belakang Predikat yang berupa verba. Seringkali kita
dibuat bingung antara Pelengkap dan Objek. Satu hal yang perlu diketahui
adalah Pelengkap tidak dapat menjadi Subyek bila dipasifkan. Jika
kalimat ada Objek maka biasanya Pelengkap terletak setelah (di belakang)
Objek. Pelengkap dapat pula diisi oleh frasa adjektiva dan frasa
preposisional.
Pengertian Keterangan
Keterangan merupakan
bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal tentang bagian kalimat
yang lainnya. Unsur Keterangan dapat berfungsi untuk
menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisi keterangan itu bisa di awal,
tengah, dan akhir kalimat.
Ada beberapa macam
keterangan yang perlu kita ketahui, yaitu :
1) Tempat (di, ke,
di (dalam), pada)
2) Waktu (pada, dalam,
se-, sebelum, sesudah, selama, sepanjang)
3) Alat (dengan)
4) Tujuan (supaya, untuk,
bagi, demi)
5) Cara (secara, dengan
cara, dengan jalan)
6) Penyerta (dengan,
bersama, beserta)
7) Similiatif (seperti,
bagaikan, laksana)
8) Penyebab (karena,
sebab)
9) Kesalingan (satu sama
lain)
Pola Kalimat Dasar
S-P
S-P-O
S-P-Pel
S-P-Ket
S-P-O-Pel
S-P-O-Ket
S-P-O-Pel-Ke
Kalimat Lengkap dan
Kalimat Tidak Lengkap
1. Kalimat Lengkap
Kalimat lengkap adalah kalimat yang setidaknya terdiri dari gabungan minimal satu buah subyek dan satu buah predikat. Kalimat Majas termasuk ke dalam kalimat lengkap.
Kalimat lengkap adalah kalimat yang setidaknya terdiri dari gabungan minimal satu buah subyek dan satu buah predikat. Kalimat Majas termasuk ke dalam kalimat lengkap.
Contoh :
· Cepot
(S) membeli (P) pulpen(O)
· Si
Kancil (S) melompat (P)
2. Kalimat
Tidak Lengkap
Kalimat tidak lengkap adalah kslimst yang tidak sempurna karena hanya memiliki sabyek saja, predikat saja, objek saja atau keterangan saja. Kalimat tidak lengkap dapat berupa semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, seruan, larangan, sapaan dan kekaguman.
Kalimat tidak lengkap adalah kslimst yang tidak sempurna karena hanya memiliki sabyek saja, predikat saja, objek saja atau keterangan saja. Kalimat tidak lengkap dapat berupa semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, seruan, larangan, sapaan dan kekaguman.
Contoh :
· Silahkan
dinikmati!
· Selamat
tidur.
· Jangan
nakal!
Kalimat Aktif dan Kalimat
Pasif
1. Kalimat
Aktif
Kalimat Aktif adalah kalimat di mana subyeknya melakukan suatu perbuatan atau aktifitas. Kalimat aktif biasanya diawali oleh awalan me- atau ber- dibagi menjadi dua macam :
Kalimat Aktif adalah kalimat di mana subyeknya melakukan suatu perbuatan atau aktifitas. Kalimat aktif biasanya diawali oleh awalan me- atau ber- dibagi menjadi dua macam :
a) Kalimat
aktif transitif adalah kalimat yang memiliki obyek penderita
o Ibu
membeli sayur.
o Dodo
menyukai teman sekelasnya.
b) Kalimat
aktif intransitif adalah kalimat yang tidak memiliki obyek penderita
o Adik
menangis
o Bondan
berkelahi
2. Kalimat
Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subyeknya dikenai suatu perbuatan atau aktifitas. Kalimat pasif biasanya diawali oleh awalan ter- atau di-
Kalimat pasif adalah kalimat yang subyeknya dikenai suatu perbuatan atau aktifitas. Kalimat pasif biasanya diawali oleh awalan ter- atau di-
o Kue
bolu dipotong oleh ibu
o Menteri
kehutanan dimintai pertanggung jawaban oleh presiden
Mengubah Kalimat Aktif
menjadi Kalimat Pasif dan Kalimat Pasif manjadi Kalimat Aktif
Untuk mengubah kalimat
aktif menjadi kalimat pasif dan juga sebaliknya dapat dilakukan langkah-langkah
mudah berikut ini :
1) Mengubawalan
pada Predikat
Yaitu menukar awalan me- atau ber- dengan di- atau ter- dan begitu sebaliknya.
Yaitu menukar awalan me- atau ber- dengan di- atau ter- dan begitu sebaliknya.
2) Menukar
Subyek dengan Obyek dan sebaliknya
Menukar kata benda yang tadinya menjadi obyek menjadi subyek dan begitu sebaliknya.
Menukar kata benda yang tadinya menjadi obyek menjadi subyek dan begitu sebaliknya.
Contoh
: Alan menyayikan lagu daerah > Lagu daerah dinyanyikan oleh Alan.
SENI DAN KARYA ILMIAH
Pengertian
Karangan Ilmiah
Pengertian karangan Ilmiah merupakan
sebuah Karya yang baik dan bisa kita ambil kesimpulan untuk mendapatkan
inspirasi dari sebuah Karya Ilmiah tersebut. Berikut adalah sedikit penjelasan
tentang Karya Ilmiah.
Pengertian karangan Ilmiah adalah Sebuah karya tulis yang mana didalam isinya
mengungkapkan suatu pembahasan yang lengkap dan secara ilmiah yang dituliskan
oleh seorang penulis. Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan
sistematis kepada para pembaca.
Karya ilmiah juga
biasanya ditulis untuk mencari sebuah jawaban mengenai sesuatu hal yang di
teliti dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam
objek tulisan tersebut. Biasanya tulisan ilmiah sering mengangkat tema seputar
hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis oleh orang lain agar terlihat
beda dan terkesan baik.
Istilah karya ilmiah adalah mengacu kepada sebuah karya tulis
yang menyusun dan menyajikan berdasarkan pada suatu kajian ilmiah dan cara
kerja ilmiah. Didalam sebuah penulisan karya ilmiah, baik makalah maupun
laporan penelitian biasanya telah didasarkan pada suatu kajian ilmiah dan cara
kerja yang ilmiah.Sekian informasi sederhana saya mengenai Pengertian Karya Ilmiah. Karya
ilmiah atau dalam bahasa Inggris (scientific
paper) adalah laporan tertulis dan publikasi yang memaparkan hasil
penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim
dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh
masyarakat keilmuan. Terdapat berbagai jenis karangan ilmiah, antara lain
laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang
pada dasarnya semua itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan.
Data,
simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah biasa dijadikan
acuan (referensi) ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian
selanjutnya. Isi (batang tubuh) sebuah karya ilmiah harus memenuhi syarat
metode ilmiah. Menurut John Dewey ada 5 langkah pokok proses ilmiah, yaitu (1)
mengenali dan merumuskan masalah, (2) menyusun kerangka berpikir dalam rangka
penarikan hipotesis, (3) merumuskan hipotesis atau dugaan hasil sementara, (4)
menguji hipotesis, dan (5) menarik kesimpulan.
Contoh
karangan ilmiah
Karangan
ilmiah: memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut
metode dan penggunaan bahasa.
Pengertian
Karangan Non Ilmiah
Pengertian karangan non ilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim
diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada
juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya
penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya
ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya
memiliki perbedaan yang signifikan.
Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa
aspek. Pertama,karya ilmiah harus
merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual
objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti.
Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi. Kedua, karya
ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah
digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur
dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan
strategi. Ketiga, dalam
pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata
lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah.
Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam
melakukan pengklasifikasian.
Karangan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga
karangan yang berbentuk semiilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa
membedakan dengan tegas antara karangan semiilmiah ini dengan karangan ilmiah
dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang
membedakan antara karangan semiilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada
pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan
bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semiilmiah
bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata
lain, karangan semiilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum
daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika
penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi
secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semiilmiah agak longgar
meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki
pendahuluan (preliminaris) yang tidak
selalu terdapat pada karangan semiilmiah.
Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semiilmiah, dan
nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah
adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan
semiilmiah antara lain artikel, feature,kritik,
esai, resensi; yang tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng,
hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.
Karya
nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak
didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan
umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya
nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya
nonilmiah bersifat (1) emotif: kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak
sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi, (2) persuasif:
penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi
sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative, (3) deskriptif: pendapat
pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan (4) jika kritik adakalanya
tanpa dukungan bukti.
Contoh
karangan non ilmiah
Karangan
non ilmiah: karangan yang tidak terikat pada karangan baku
Misal: anekdot, opini, dongeng, hikayat, cerpen, novel, roman, dan naskah drama.
Misal: anekdot, opini, dongeng, hikayat, cerpen, novel, roman, dan naskah drama.
Pengertian
Karangan Semi Ilmiah
Pengertian karangan semi ilmiah adalah sebuah penulisan yang menyajikan fakta
dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak
sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di
masukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah
karena jenis Semi Ilmiah.
Pengertian
karangan semi ilmiah merupakan karangan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam
satu tulisan. Penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya
mengikuti metode ilmiah. Penulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa
konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya tekhnis dan didukung dengan fakta
umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang
menyajikan fakta dan fiksi Jenis karangan semi ilmiah memang masih banyak
digunakan misal dalam opini, editorial, resensi, anekdot, hikayat, dan
karakteristiknya berada diantara ilmiah.
Mengarang
merupakan kegiatan mengemukakan gagasan secara tertulis. Menurut Syafie’ie
(1988:41), tulisan pada hakikatnya adalah representasi bunyi-bunyi bahasa dalam
bentuk visual menurut sistem ortografi tertentu. Banyak aspek bahasa lisan
seperti nada, tekanan irama serta beberapa aspek lainya tidak dapat direpresentasikan
dalam tulisan. Begitu juga halnya dengan aspek fisik, seperti gerak tangan,
tubuh, kepala, wajah, yang mengiringi bahasa lisan tidak dapat diwujudkan dalam
bahasa tulis. Oleh karena itu, dalam mengemukakan gagasan secara tertulis,
penulis perlu menggunakan bentuk tertentu. Betuk-bentuk tersebut, seperti
dikemukakan oleh Semi (2003:29) bahwa secara umum karangan dapat dikembangkan
dalam empat bentuk yaitu narasi, ekposisisi, deskripsi, dan argumentasi.
Contoh
karangan ilmiah:
Karangan
semi ilmiah atau ilmiah populer: karakteristiknya berada di antara ilmiah dan
non ilmiah
Misal: artikel, editorial, opini, feuture, reportase
Misal: artikel, editorial, opini, feuture, reportase
Pengertian karya non ilmiah
Karya
non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan
dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung
fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa
digunakan (tidak terlalu formal).
Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah
ditulis
berdasarkan fakta pribadi,
fakta yang
disimpulkan subyektif,
gaya
bahasa konotatif dan populer,
tidak
memuat hipotesis,
penyajian
dibarengi dengan sejarah,
bersifat
imajinatif,
situasi
didramatisir,
bersifat
persuasif.
tanpa
dukungan bukti
Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah
Dongeng
Cerpen
Novel
Drama
roman.
Perbedaan Karya Ilmiah dengan Non-ilmiah
Istilah
karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui
orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga
sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari
bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah
baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya,
kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.
Perbedaan-perbedaan
yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek.
Pertama
Karya
ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif).
Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti.
Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri.
Kedua
Karya
ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah
digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur
dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan
strategi.
Ketiga
Dalam
pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata
lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah.
Perbedaan-perbedaan
inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
Karya nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya
tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta
pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak,
gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan
teknis.
Karya nonilmiah bersifat
(1)
emotif: kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari
keuntungan dan sedikit informasi.
(2)
persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca,
mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative
(3)
deskriptif: pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.
(4) jika
kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.